Halaman

Selasa, 28 Oktober 2014

metode cerita



Metode bercerita jadi pilihan yang tepat tanpa terkendala dengan sarpras

Kita tahu, gaya belajar seorang guru sangat menentukan gayanya dalam mengajar. Karenanya, guru harus mengetahui gaya belajarnya dan kemudian menyadari bahwa siswa memiliki gaya belajarnya masing-masing yang belum tentu sama dengan gaya belajar yang disukai olehnya.
Metode bercerita sangat dekat dengan ceramah, meski ada perbedaan-perbedaan yang prinsip antara keduanya. Metode ceramah cenderung bersifat formal, kaku, dan teacher centered sehingga siswa kerap mengalami kebosanan dan kejenuhan dan pada akhinya tertidur. Sementara itu, metode bercerita cenderung non-formal dan bebas. Jika kita bisa memilih dan menceritakan sebuah kisah dengan baik dipastikan semua siswa terpancing untuk menyimak.
Ketika guru bercerita bisa jadi siswa terpaku dan terdiam, tetapi bukan berarti mereka pasif. Otak mereka bekerja merespon alur, gambar-gambar, dan dialog dalam cerita yang didengar oleh telinga. Alhasil imajinasi siswa jadi terasah. Imajinasi adalah mother of science. “Imajinasi lebih penting dari pada ilmu pengetahuan,” demikian menurut Rofiatul Mukarromah.
Oleh karena itu, kurang tepat kiranya menganggap kebiasaan mendongeng atau bercerita hanya sebagai aktivitas meninabobokan anak-anak atau sekadar untuk selingan proses pembelajaran. Memang anak-anak kita suka didongengi dan biasanya mereka kemudian tertidur setelah didongengi. Benar bahwa bercerita atau mendongeng bisa dijadikan sisipan atau selingan dalam proses pembelajaran. Meski begitu, anggapan mendongeng atau bercerita hanya untuk meninabobokan atau untuk selingan proses pembelajaran sama saja mempersempit manfaat dari kegiatan tersebut.
Selain mengasah imajinasi, metode bercerita sangat tepat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa. Untuk menasehati siswa, dan mengaktifkan kesadaran moral mereka, tidak cukup hanya dengan kalimat-kalimat yang verbal, 
Tugas seorang guru, selain sebagai edukator dan fasilitator, juga sebagai inspirator dan motivator. Untuk bisa memerankan tugas-tugasnya dengan baik dibutuhkan metode yang baik. Sayangnya kadang-kadang sarana dan prasarana sekolah tidak mendukung metode yang ingin diterapkan sang Guru. Maka dari itu, bercerita bisa menjadi pilihan metode yang tepat tanpa harus terkendala dengan sarana dan prasarana.

Asik mendengar daripada membaca



Kita tahu, gaya belajar seorang guru sangat menentukan gayanya dalam mengajar. Karenanya, guru harus mengetahui gaya belajarnya dan kemudian menyadari bahwa siswa memiliki gaya belajarnya masing-masing yang belum tentu sama dengan gaya belajar yang disukai olehnya.
Metode bercerita sangat dekat dengan ceramah, meski ada perbedaan-perbedaan yang prinsip antara keduanya. Metode ceramah cenderung bersifat formal, kaku, dan teacher centered sehingga siswa kerap mengalami kebosanan dan kejenuhan dan pada akhinya tertidur. Sementara itu, metode bercerita cenderung non-formal dan bebas. Jika kita bisa memilih dan menceritakan sebuah kisah dengan baik dipastikan semua siswa terpancing untuk menyimak.
Ketika guru bercerita bisa jadi siswa terpaku dan terdiam, tetapi bukan berarti mereka pasif. Otak mereka bekerja merespon alur, gambar-gambar, dan dialog dalam cerita yang didengar oleh telinga. Alhasil imajinasi siswa jadi terasah. Imajinasi adalah mother of science. “Imajinasi lebih penting dari pada ilmu pengetahuan,” demikian menurut Rofiatul Mukarromah.
Oleh karena itu, kurang tepat kiranya menganggap kebiasaan mendongeng atau bercerita hanya sebagai aktivitas meninabobokan anak-anak atau sekadar untuk selingan proses pembelajaran. Memang anak-anak kita suka didongengi dan biasanya mereka kemudian tertidur setelah didongengi. Benar bahwa bercerita atau mendongeng bisa dijadikan sisipan atau selingan dalam proses pembelajaran. Meski begitu, anggapan mendongeng atau bercerita hanya untuk meninabobokan atau untuk selingan proses pembelajaran sama saja mempersempit manfaat dari kegiatan tersebut.
Selain mengasah imajinasi, metode bercerita sangat tepat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa. Untuk menasehati siswa, dan mengaktifkan kesadaran moral mereka, tidak cukup hanya dengan kalimat-kalimat yang verbal, 
Tugas seorang guru, selain sebagai edukator dan fasilitator, juga sebagai inspirator dan motivator. Untuk bisa memerankan tugas-tugasnya dengan baik dibutuhkan metode yang baik. Sayangnya kadang-kadang sarana dan prasarana sekolah tidak mendukung metode yang ingin diterapkan sang Guru. Maka dari itu, bercerita bisa menjadi pilihan metode yang tepat tanpa harus terkendala dengan sarana dan prasarana.


Kita tahu, gaya belajar seorang guru sangat menentukan gayanya dalam mengajar. Karenanya, guru harus mengetahui gaya belajarnya dan kemudian menyadari bahwa siswa memiliki gaya belajarnya masing-masing yang belum tentu sama dengan gaya belajar yang disukai olehnya.
Metode bercerita sangat dekat dengan ceramah, meski ada perbedaan-perbedaan yang prinsip antara keduanya. Metode ceramah cenderung bersifat formal, kaku, dan teacher centered sehingga siswa kerap mengalami kebosanan dan kejenuhan dan pada akhinya tertidur. Sementara itu, metode bercerita cenderung non-formal dan bebas. Jika kita bisa memilih dan menceritakan sebuah kisah dengan baik dipastikan semua siswa terpancing untuk menyimak.
Ketika guru bercerita bisa jadi siswa terpaku dan terdiam, tetapi bukan berarti mereka pasif. Otak mereka bekerja merespon alur, gambar-gambar, dan dialog dalam cerita yang didengar oleh telinga. Alhasil imajinasi siswa jadi terasah. Imajinasi adalah mother of science. “Imajinasi lebih penting dari pada ilmu pengetahuan,” demikian menurut Rofiatul Mukarromah.
Oleh karena itu, kurang tepat kiranya menganggap kebiasaan mendongeng atau bercerita hanya sebagai aktivitas meninabobokan anak-anak atau sekadar untuk selingan proses pembelajaran. Memang anak-anak kita suka didongengi dan biasanya mereka kemudian tertidur setelah didongengi. Benar bahwa bercerita atau mendongeng bisa dijadikan sisipan atau selingan dalam proses pembelajaran. Meski begitu, anggapan mendongeng atau bercerita hanya untuk meninabobokan atau untuk selingan proses pembelajaran sama saja mempersempit manfaat dari kegiatan tersebut.
Selain mengasah imajinasi, metode bercerita sangat tepat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa. Untuk menasehati siswa, dan mengaktifkan kesadaran moral mereka, tidak cukup hanya dengan kalimat-kalimat yang verbal, 
Tugas seorang guru, selain sebagai edukator dan fasilitator, juga sebagai inspirator dan motivator. Untuk bisa memerankan tugas-tugasnya dengan baik dibutuhkan metode yang baik. Sayangnya kadang-kadang sarana dan prasarana sekolah tidak mendukung metode yang ingin diterapkan sang Guru. Maka dari itu, bercerita bisa menjadi pilihan metode yang tepat tanpa harus terkendala dengan sarana dan prasarana.

Minggu, 26 Oktober 2014

SENYUM GURU DI HARI PENDIDIKAN



Tuntutan tanggungjawab yang begitu besar ada di pundak guru. Seorang guru diharapkan mampu memberikan ilmu pengetahuan sekaligus mendidik anak agar memiliki sifat yang baik. Di lain hal, guru juga harus mampu memberikan contoh perilaku yang baik pula. Dalam setiap kesempatan, baik di kampung, masyarakat, lebih-lebih di sekolah, seorang guru menjadi tokoh ideal utuk menjadi teladan bagi siswa-siswinya.
Bagi seorang guru yang benar-benar ikhlas menjadi guru, tentunya ini menjadi tanggung jawab yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Guru merasa sedih, risau, bahkan galau kalau ada siswa-siswinya yang keluar dari aturan-aturan di sekolah maupun di masyarakat. Guru merasa prihatin dan ngelus dodo terhadap sikap siswa-siswi yang demikian.
Berkenaan dengan kegiatan belajar mengajar, seorang guru juga dituntut mampu menjadikan anak berilmu dan sekaligus berakhlak mulia. Namun ini menjadi suatu problema tersendiri bagi seorang guru, karena tidak mudah mengajar anak-anak yang bervariasi sikap dan daya tangkapnya terhadap materi pelajaran.
Guru perlu metode dan media yang bisa membuat minat siswa tertarik untuk mengikuti pelajaran. Padahal, tidak semua siswa mempunyai minat yang sama terhadap pelajaran. Apalagi jika ada siswa yang super nakal. Guru harus ektra sabar dan tetap senyum. “Jangan meremehkan sedikit pun dari amal kebaikan, meski hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri (senyum). (HR. Muslim).
Setiap hari guru selalu berhadapan dengan persoalan-persoalan anak yang beraneka ragam. Mulai dari sikapnya yang nakal, tidak mau diatur, selalu melanggar aturan. Sehingga terkadang guru merasa lelah terhadap tingkah laku siswa-siswinya. Namun hebatnya, guru selalu tersenyum dan menganggap itu adalah hiburan yang harus dinikmati. Seperti yang dilakukan Bu Khotimah terhadap anak didiknya! Bu guru ini tiap hari membuat anak didiknya selalu tersenyum!
Saat bel pulang berdering, Bu Khotimah, wali kelas 1A akan berdiri di tengah kelas sambil membawa microphone bohongan di depan mulutnya. Dengan setengah berteriak, dia akan memberikan pengumuman seperti ini:
Ding Dong! Perhatian Perhatian! Seluruh Penumpang Diharapkan Segera Duduk Di Kursinya Karena Pesawat Akan Segera Berangkat.
Anak-anak kelas 1A akan berlari-lari untuk segera duduk di kursi mereka masing-masing.
Dipersilahkan Kepada Para Penumpang Untuk Mengenakan Sabuk Pengaman.
Anak-anak seru mengenakan tas sekolahnya, menyelempangkan botol air minum, memakai topi, sepatu dan kaus kaki. Lalu duduk rapi.
Kita Akan Segera Berangkat Menuju, (misalnya) Bali
Anak-anak akan berteriak kecil: Yee..!!
Mari Kita Berdoa Bersama-Sama.
“Bismillahirrahmaanirrahiim Bismillahi tawakkaltu alallahi laa haulaa walaa quwwata illabillahhh. Bismillahi majreeha wamursahaa inna robbii la ghofururrohiimm Subhanaka Allahumma wabihamdika ashaduallaailaaahaa illa anta Astaghfiruka wa’atuubu ilaika.”
Tapi hari Jum’at kemarin, ternyata tidak semulus biasanya. Setelah Bu Khotimah memberikan pengumuman yang pertama, seorang anak tiba-tiba berteriak kepada kawan-kawannya:
Haidar          : “Heh! Temen-temen! Kita tuh dibohongin tahu! (sambil tersenyum) kita kan
  gak mau pergi ke Belanda. Orang kita cuma mau pulang!”
Nabil            : (Balas berteriak) Iya, Haidar! Kita kan cuma pura-puranya aja, tau!
Haidar          : (Masih gak mau kalah) Tapi kita gak mau naik kapal terbang! Kita kan mau  
                     pulang.
Nabil            : Iya, kita udah tau. Orang cuma bohong-bohongan aja!!!
Dan…
Anak kelas 1A ramai-ramai kompak: Iya. Tiap hari juga Bu Guru membuat kita senyum kan? kita udah tau Haidar. Kamu gimana sih?
Bu Khotimah  : (Pasrah!!)
Senyuman itu sedekah yang murah meriah. Sebab, senyum itu bernilai ibadah dalam Islam. Senyum juga menyehatkan jiwa. Ada yang mengatakan senyum itu sama dengan olahraga ringan 20 menit. Sebuah hadist  berbunyi, “Tersenyum ketika bertemu saudaramu adalah ibadah”. (HR Trimidzi, Ibnu Hibban, dan Baihaqi). 
Banyak orang-orang hebat sering bercerita tentang jalan hidupnya, mulai dari kecil, masa sekolah, masa kuliah sampai dia sebegitu suksesnya. Biasanya selalu ada cerita menarik yang menjadi inspirasi hidup mereka sehingga mereka bisa luar biasa sukses. Saya pernah mendengar cerita seorang Trainer, beliau begitu terobsesi dengan gurunya yang selalu menyambut mereka dengan senyum indah dan bersemangat, memberikan cerita-cerita motivasi yang membangun, dan guru yang selalu menghadirkan kebahagiaan di tengah-tengah kelas.
Namun, tidak sedikit pula orang yang mengenang gurunya dari berbagai hal negatifnya, dari yang suka membentak, marah-marah, sering memukul dan mencubit dan sebagainya. Nah, sebagai seorang guru, tinggal memilih jadi seperti apa kelak kita akan dikenang murid-murid kita, tergantung seperti apa yang kita perankan sekarang.
Rasulullah saw selalu bergurau dan sering mengajak isteri

dan para sahabatnya bersenda gurau untuk mengambil hati serta membuat mereka gembira dan tersenyum. Namun bersenda gurau beliau tidak berlebihan, tetap ada batasnya. Bila ketawa, Baginda tidak melampaui batas tetapi hanya sekadar tersenyum. Begitu pula dalam bergurau, Beliau tidak berkata kecuali yang benar. Abu Hurairah RA pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah SAW menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad. Sanadnya Sahih).
Satu ketika, Rasulullah SAW dan para sahabat sedang makan buah kurma, biji-bijinya mereka sisihkan di tempatnya masing-masing. Beberapa saat kemudian, Ali Ra menyadari bahwa dia memakan terlalu banyak kurma. Biji-biji kurma sisa mereka berkumpul lebih banyak di sisi Ali dibandingkan di sisi Rasulullah SAW. Maka Ali pun secara diam-diam memindahkan biji-biji kurma tersebut ke sisi Rasulullah. Kemudian Ali Ra dengan tersipu-sipu mengatakan, “Wahai Nabi, engkau memakan kurma lebih banyak dari pada aku. Lihatlah biji-biji kurma yang berkumpul di tempatmu.” Nabi pun tersenyum dan
menjawab, “Ali, kamulah yang memakan lebih banyak kurma. Aku memakan kurma
dan masih menyisakan biji bijinya. Sedangkan engkau,memakan kurma berikut biji-bijinya”.
(HR. Bukhori)
Rasulullah SAW adalah sosok yang suka menebarkan kegembiraan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Walapun Beliau menghadapi berbagai kesusahan yang bermacam-macam, namun Beliau tak lupa juga bergurau dalam batasan tidak bercakap sesuatu kecuali yang benar. Dalam referensi lain menyatakan bahwa senyuman yang tulus sesungguhnya sangat bermanfaat bagi anak-anak didik kita.

Adapun manfaat-manfaat senyum di antaranya adalah:

1). Senyum dapat memperbaiki hubungan seorang pendidik dengan anak didiknya, baik dengan orang lain maupun dengan Tuhannya. Orang yang tersenyum ketika berbicara atau berhubungan dengan orang lain secara otomatis menandakan bahwa hubungannya dengan lawan bicaranya terjalin dengan baik. Orang yang menjaga hubungan baiknya dengan orang lain berarti menyambung tali silaturohim dan Allah menjaga hubungan dengan hamba-Nya yang menyambung tali silaturohim.

2). Senyum dapat menambah daya tarik seorang pendidik dengan anak didiknya. Dilihat dari segi penampilan, orang yang tersenyum biasanya memiliki daya tarik tersendiri, orang yang tersenyum terlihat lebih ramah, lebih berwibawa, dan mempunyai kharisma tersendiri.



3). Senyum dapat menjaga dan memulihkan kesehatan bagi seorang pendidik terhadap anak didiknya. Dipandang dari segi kesehatan, tentu saja orang yang murah senyum akan jauh dari stress, jantungnya berdetak normal, peredaran darahnya juga mengalir dengan baik. Pendek kata, orang yang terbiasa tersenyum akan terhindar dari berbagai ketegangan hidup yang biasanya dapat membuat seseorang jenuh dan mudah stress. Sebabnya karena senyuman mendorong hati seseorang menjadi lebih bahagia dan gembira. Dan sebagai akibatnya, selain menyehatkan dan menguatkan tubuh, juga akan membuat seseorang awet muda. Menurut seorang dokter, tersenyum itu ternyata hanya mengandalkan tujuh belas otot wajah sedangkan bila kita cemberut akan tertarik kurang lebih tiga puluh dua otot wajah. Sungguh inilah salah satu sebab mengapa wajah terkadang terlihat cepat tua bagi orang yang membiasakan diri jarang tersenyum.

4). Senyum dapat memperluas pergaulan seorang pendidik dengan anak didiknya. Dipandang dari segi hubungan sosial, orang yang senantiasa tersenyum dalam berbicara ataupun berhubungan dengan orang lain berarti ia mempunyai kepribadian yang menarik dan menyenangkan bagi orang lain. Dan orang yang memiliki kepribadian yang menarik mudah disenangi oleh orang lain sehingga pergaulannya juga semakin luas.

5). Senyum dapat meredam kemarahan bagi seorang pendidik dengan anak didiknya. Senyuman seseorang dapat meluluhkan emosi orang yang marah. Bila ada yang marah mendatangi kita, hadapilah dengan senyuman yang tulus karena senyum semacam ini bakal mampu meredam emosi orang yang marah.Yukk..guru-guru semua tersenyum J