Kita tahu, gaya belajar seorang guru
sangat menentukan gayanya dalam mengajar. Karenanya, guru harus mengetahui gaya
belajarnya dan kemudian menyadari bahwa siswa memiliki gaya belajarnya
masing-masing yang belum tentu sama dengan gaya belajar yang disukai olehnya.
Metode bercerita sangat dekat dengan ceramah, meski ada perbedaan-perbedaan yang prinsip antara keduanya. Metode ceramah cenderung bersifat formal, kaku, dan teacher centered sehingga siswa kerap mengalami kebosanan dan kejenuhan dan pada akhinya tertidur. Sementara itu, metode bercerita cenderung non-formal dan bebas. Jika kita bisa memilih dan menceritakan sebuah kisah dengan baik dipastikan semua siswa terpancing untuk menyimak.
Ketika guru bercerita bisa jadi siswa terpaku dan terdiam, tetapi bukan berarti mereka pasif. Otak mereka bekerja merespon alur, gambar-gambar, dan dialog dalam cerita yang didengar oleh telinga. Alhasil imajinasi siswa jadi terasah. Imajinasi adalah mother of science. “Imajinasi lebih penting dari pada ilmu pengetahuan,” demikian menurut Rofiatul Mukarromah.
Metode bercerita sangat dekat dengan ceramah, meski ada perbedaan-perbedaan yang prinsip antara keduanya. Metode ceramah cenderung bersifat formal, kaku, dan teacher centered sehingga siswa kerap mengalami kebosanan dan kejenuhan dan pada akhinya tertidur. Sementara itu, metode bercerita cenderung non-formal dan bebas. Jika kita bisa memilih dan menceritakan sebuah kisah dengan baik dipastikan semua siswa terpancing untuk menyimak.
Ketika guru bercerita bisa jadi siswa terpaku dan terdiam, tetapi bukan berarti mereka pasif. Otak mereka bekerja merespon alur, gambar-gambar, dan dialog dalam cerita yang didengar oleh telinga. Alhasil imajinasi siswa jadi terasah. Imajinasi adalah mother of science. “Imajinasi lebih penting dari pada ilmu pengetahuan,” demikian menurut Rofiatul Mukarromah.
Oleh
karena itu, kurang tepat kiranya menganggap kebiasaan mendongeng atau bercerita
hanya sebagai aktivitas meninabobokan anak-anak atau sekadar untuk selingan
proses pembelajaran. Memang anak-anak kita suka didongengi dan biasanya mereka
kemudian tertidur setelah didongengi. Benar bahwa bercerita atau mendongeng
bisa dijadikan sisipan atau selingan dalam proses pembelajaran. Meski begitu,
anggapan mendongeng atau bercerita hanya untuk meninabobokan atau untuk
selingan proses pembelajaran sama saja mempersempit manfaat dari kegiatan
tersebut.
Selain mengasah imajinasi, metode bercerita sangat tepat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa. Untuk menasehati siswa, dan mengaktifkan kesadaran moral mereka, tidak cukup hanya dengan kalimat-kalimat yang verbal,
Tugas seorang guru, selain sebagai edukator dan fasilitator, juga sebagai inspirator dan motivator. Untuk bisa memerankan tugas-tugasnya dengan baik dibutuhkan metode yang baik. Sayangnya kadang-kadang sarana dan prasarana sekolah tidak mendukung metode yang ingin diterapkan sang Guru. Maka dari itu, bercerita bisa menjadi pilihan metode yang tepat tanpa harus terkendala dengan sarana dan prasarana.
Selain mengasah imajinasi, metode bercerita sangat tepat digunakan untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa. Untuk menasehati siswa, dan mengaktifkan kesadaran moral mereka, tidak cukup hanya dengan kalimat-kalimat yang verbal,
Tugas seorang guru, selain sebagai edukator dan fasilitator, juga sebagai inspirator dan motivator. Untuk bisa memerankan tugas-tugasnya dengan baik dibutuhkan metode yang baik. Sayangnya kadang-kadang sarana dan prasarana sekolah tidak mendukung metode yang ingin diterapkan sang Guru. Maka dari itu, bercerita bisa menjadi pilihan metode yang tepat tanpa harus terkendala dengan sarana dan prasarana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar