Tuntutan tanggungjawab yang begitu
besar ada di pundak guru. Seorang guru diharapkan mampu memberikan ilmu
pengetahuan sekaligus mendidik anak agar memiliki sifat yang baik. Di lain hal,
guru juga harus mampu memberikan contoh perilaku yang baik pula. Dalam setiap
kesempatan, baik di kampung, masyarakat, lebih-lebih di sekolah, seorang guru
menjadi tokoh ideal utuk menjadi teladan bagi siswa-siswinya.
Bagi seorang guru yang benar-benar
ikhlas menjadi guru, tentunya ini menjadi tanggung jawab yang harus
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Guru merasa sedih, risau, bahkan
galau kalau ada siswa-siswinya yang keluar dari aturan-aturan di sekolah maupun
di masyarakat. Guru merasa prihatin dan ngelus
dodo terhadap sikap siswa-siswi yang demikian.
Berkenaan dengan kegiatan belajar
mengajar, seorang guru juga dituntut mampu menjadikan anak berilmu dan
sekaligus berakhlak mulia. Namun ini menjadi suatu problema tersendiri bagi
seorang guru, karena tidak mudah mengajar anak-anak yang bervariasi sikap dan
daya tangkapnya terhadap materi pelajaran.
Guru perlu metode dan media yang bisa
membuat minat siswa tertarik untuk mengikuti pelajaran. Padahal, tidak semua
siswa mempunyai minat yang sama terhadap pelajaran. Apalagi jika ada siswa yang
super nakal. Guru harus ektra sabar dan tetap senyum. “Jangan meremehkan sedikit pun dari
amal kebaikan, meski hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang
berseri-seri (senyum).”
(HR. Muslim).
Setiap hari guru selalu berhadapan
dengan persoalan-persoalan anak yang beraneka ragam. Mulai dari sikapnya yang
nakal, tidak mau diatur, selalu melanggar
aturan. Sehingga terkadang guru merasa lelah
terhadap tingkah laku siswa-siswinya. Namun hebatnya, guru selalu tersenyum dan
menganggap itu adalah hiburan yang harus dinikmati. Seperti yang dilakukan Bu Khotimah terhadap anak didiknya! Bu guru ini tiap hari membuat anak didiknya selalu tersenyum!
Saat bel pulang berdering, Bu Khotimah, wali kelas 1A akan berdiri di
tengah kelas sambil membawa microphone
bohongan di depan mulutnya. Dengan setengah berteriak, dia akan memberikan
pengumuman seperti ini:
“Ding Dong! Perhatian Perhatian! Seluruh
Penumpang Diharapkan Segera Duduk Di Kursinya Karena Pesawat Akan Segera
Berangkat.”
Anak-anak
kelas 1A akan berlari-lari untuk segera duduk di kursi mereka masing-masing.
“Dipersilahkan Kepada Para Penumpang
Untuk Mengenakan Sabuk Pengaman.”
Anak-anak
seru mengenakan tas sekolahnya, menyelempangkan botol air minum, memakai topi,
sepatu dan kaus kaki. Lalu duduk rapi.
“Kita Akan Segera Berangkat Menuju, (misalnya) Bali”
Anak-anak
akan berteriak kecil: Yee..!!
“Mari Kita Berdoa Bersama-Sama.”
“Bismillahirrahmaanirrahiim
Bismillahi tawakkaltu alallahi laa haulaa walaa quwwata illabillahhh. Bismillahi
majreeha wamursahaa inna robbii la ghofururrohiimm Subhanaka Allahumma
wabihamdika ashaduallaailaaahaa illa anta Astaghfiruka wa’atuubu ilaika.”
Tapi hari Jum’at kemarin, ternyata
tidak semulus biasanya. Setelah Bu Khotimah memberikan pengumuman yang pertama,
seorang anak tiba-tiba berteriak kepada kawan-kawannya:
Haidar :
“Heh! Temen-temen! Kita tuh dibohongin tahu! (sambil
tersenyum) kita kan
gak
mau pergi ke Belanda. Orang kita
cuma mau pulang!”
Nabil :
(Balas berteriak) Iya,
Haidar! Kita kan cuma pura-puranya aja,
tau!
Haidar : (Masih gak mau kalah) Tapi kita gak mau naik kapal terbang! Kita kan mau
pulang.
Nabil :
Iya, kita udah tau. Orang cuma
bohong-bohongan aja!!!
Dan…
Anak
kelas 1A ramai-ramai kompak: Iya. Tiap hari juga Bu Guru membuat kita senyum kan? kita udah tau Haidar. Kamu gimana sih?
Bu
Khotimah : (Pasrah!!)
Senyuman itu sedekah yang murah meriah.
Sebab, senyum itu bernilai ibadah dalam Islam. Senyum juga menyehatkan jiwa. Ada yang mengatakan senyum itu sama
dengan olahraga ringan 20 menit. Sebuah hadist berbunyi, “Tersenyum
ketika bertemu saudaramu adalah ibadah”. (HR
Trimidzi, Ibnu Hibban, dan Baihaqi).
Namun, tidak sedikit pula orang yang
mengenang gurunya dari berbagai hal negatifnya, dari yang suka membentak,
marah-marah, sering memukul dan mencubit dan sebagainya. Nah, sebagai seorang
guru, tinggal memilih jadi seperti apa kelak kita akan dikenang murid-murid kita, tergantung seperti apa
yang kita perankan sekarang.
Rasulullah saw selalu bergurau dan
sering mengajak isteri
dan para sahabatnya bersenda gurau untuk mengambil hati serta membuat mereka gembira dan tersenyum. Namun bersenda gurau beliau tidak berlebihan, tetap ada batasnya. Bila ketawa, Baginda tidak melampaui batas tetapi hanya sekadar tersenyum. Begitu pula dalam bergurau, Beliau tidak berkata kecuali yang benar. Abu Hurairah RA pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah SAW menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad. Sanadnya Sahih).
Satu ketika, Rasulullah SAW dan para
sahabat sedang makan buah kurma, biji-bijinya mereka sisihkan di tempatnya masing-masing. Beberapa saat kemudian, Ali Ra menyadari bahwa dia memakan terlalu banyak
kurma. Biji-biji kurma sisa mereka berkumpul lebih banyak di sisi Ali
dibandingkan di sisi Rasulullah SAW. Maka Ali pun secara diam-diam memindahkan
biji-biji kurma tersebut ke sisi Rasulullah. Kemudian Ali Ra dengan tersipu-sipu mengatakan, “Wahai Nabi, engkau memakan kurma lebih
banyak dari pada aku. Lihatlah biji-biji kurma yang berkumpul di tempatmu.” Nabi pun tersenyum dan
menjawab, “Ali, kamulah yang memakan lebih banyak kurma. Aku memakan kurma
dan masih menyisakan biji bijinya. Sedangkan engkau,memakan kurma berikut biji-bijinya”. (HR. Bukhori)
menjawab, “Ali, kamulah yang memakan lebih banyak kurma. Aku memakan kurma
dan masih menyisakan biji bijinya. Sedangkan engkau,memakan kurma berikut biji-bijinya”. (HR. Bukhori)
Adapun manfaat-manfaat senyum di antaranya adalah:
1). Senyum dapat memperbaiki hubungan seorang pendidik dengan anak
didiknya, baik dengan orang lain maupun dengan Tuhannya. Orang yang tersenyum
ketika berbicara atau berhubungan dengan orang lain secara otomatis menandakan
bahwa hubungannya dengan lawan bicaranya terjalin dengan baik. Orang yang
menjaga hubungan baiknya dengan orang lain berarti menyambung tali silaturohim
dan Allah menjaga hubungan dengan hamba-Nya yang menyambung tali silaturohim.
2). Senyum dapat menambah daya tarik seorang pendidik dengan anak
didiknya. Dilihat dari segi penampilan, orang yang tersenyum biasanya memiliki
daya tarik tersendiri, orang yang tersenyum terlihat lebih ramah, lebih
berwibawa, dan mempunyai kharisma tersendiri.
3). Senyum dapat menjaga dan memulihkan kesehatan bagi seorang
pendidik terhadap anak didiknya. Dipandang dari segi kesehatan, tentu saja
orang yang murah senyum akan jauh dari stress, jantungnya berdetak normal,
peredaran darahnya juga mengalir dengan baik. Pendek kata, orang yang terbiasa
tersenyum akan terhindar dari berbagai ketegangan hidup yang biasanya dapat
membuat seseorang jenuh dan mudah stress. Sebabnya karena senyuman mendorong
hati seseorang menjadi lebih bahagia dan gembira. Dan sebagai akibatnya, selain
menyehatkan dan menguatkan tubuh, juga akan membuat seseorang awet muda.
Menurut seorang dokter, tersenyum itu ternyata hanya mengandalkan tujuh belas
otot wajah sedangkan bila kita cemberut akan tertarik kurang lebih tiga puluh
dua otot wajah. Sungguh inilah salah satu sebab mengapa wajah terkadang
terlihat cepat tua bagi orang yang membiasakan diri jarang tersenyum.
4). Senyum dapat memperluas pergaulan seorang pendidik dengan anak
didiknya. Dipandang dari segi hubungan sosial, orang yang senantiasa tersenyum
dalam berbicara ataupun berhubungan dengan orang lain berarti ia mempunyai
kepribadian yang menarik dan menyenangkan bagi orang lain. Dan orang yang
memiliki kepribadian yang menarik mudah disenangi oleh orang lain sehingga
pergaulannya juga semakin luas.
5). Senyum dapat meredam kemarahan bagi seorang pendidik dengan
anak didiknya. Senyuman seseorang dapat meluluhkan emosi orang yang marah. Bila
ada yang marah mendatangi kita, hadapilah dengan senyuman yang tulus karena
senyum semacam ini bakal mampu meredam emosi orang yang marah.Yukk..guru-guru semua tersenyum J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar